opini

Meluruskan Kesalahan Fatal Jam Gadang

Sabtu, 6 Juni 2026 | 18:14 WIB
Khairul Jasmi (Foto: Istimewa)




Angka Romawi itu tua. Lahir di Roma kuno. Kota Roma tahukan? Yang tak satu jalan ke Roma itu. Di sanalah angka ini lahir, dipakai jauh sebelum angka yang kita pakai sekarang. Dan, di Roma asli, empat ditulis IIII. Sembilan ditulis VIIII. Bukan IV, bukan IX. Ini, baru jadi kebiasaan belakangan, sekitar zaman Renaissance. Jadi yang lebih tua justru IIII. Di jam matahari peninggalan Romawi pun, empatnya IIII. Jelas, IIII bukan salah ketik tukang Jerman itu.





Bukan pula saya mengarang. Saya beberapa kali ke Belanda. Saya saksikan sendiri, dengan mata kepala sendiri, di jam-jam menara mereka, angka empat ditulis IIII. Bukan IV. Itu adat tua jam Eropa, jauh sebelum jam kita lahir.





Lagi pula, soal jam menara, kita ini murid baru, masuk siang pula. Tengok Domtoren di Utrecht, menara gereja tertinggi di Belanda yang menjulang 112 meter lebih, dengan mesin jam buatan 1859 yang disebut Wijzerwerk mekanik terbesar di negeri itu. Jam Gadang kita? Hanya 27,5 meter. Dibandingkan, bak ayam dengan anaknya. Yang di Belanda induknya, Jam Gadang anaknya. Di dunia jam, IIII bertahan berabad-abad. Bukan tanpa alasan.





Satu, soal keseimbangan. Di muka jam, IIII yang tebal di kanan mengimbangi VIII yang tebal di kiri. Kalau dipakai IV, berat sebelah. Tak elok dipandang. Cobalah kalau tak percaya. Dua, soal keteraturan. Dengan IIII, angka terbagi rapi tiga kelompok: empat angka pertama cuma pakai I, empat berikutnya pakai V, empat terakhir pakai X. Tertib.





Tiga, ada cerita lama. IV adalah dua huruf pertama nama dewa tertinggi Romawi, IVPPITER, si Jupiter. Supaya tak mengusik dewa, orang menghindari menulis IV. Ini sebatas dugaan, tapi enak diceritakan.





Yang penting begini: IIII itu lazim, bukan ajaib. Hampir semua jam tua di dunia memakai IIII. Yang justru langka, jam yang memakai IV. Salah satunya Big Ben. Menara jam London itu memakai IV, bukan IIII. Maka soal angka pun Jam Gadang dan Big Ben tidak sama. Yang satu IIII, yang lain IV. Cerita kembaran itu runtuh sekali lagi. Jatuh berderai si bungo lado.





Dan tolong, jangan ada lagi cerita empat huruf I itu menandai empat pekerja yang tewas saat membangun menara. Itu karangan. Angka IIII sudah dipakai di jam-jam Eropa ratusan tahun sebelum batu pertama Jam Gadang dipasang. Itu cuma cara Eropa menulis empat di muka jam. Titik.


Halaman:

Tags

Terkini

Gunung dan Wisata Masa Depan

Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:10 WIB

Jembatan Cinta-nya Rasuna Said

Senin, 3 Agustus 2026 | 20:18 WIB

Berani Jujur Hebat

Selasa, 28 Juli 2026 | 14:59 WIB

Nestapa Perundungan di Sekolah

Selasa, 28 Juli 2026 | 10:30 WIB

Lautaro Martínez dan Dua Asis Messi

Kamis, 16 Juli 2026 | 20:09 WIB

Meluruskan Kesalahan Fatal Jam Gadang

Sabtu, 6 Juni 2026 | 18:14 WIB