Meluruskan Kesalahan Fatal Jam Gadang

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Sabtu, 6 Juni 2026 | 18:14 WIB
Khairul Jasmi (Foto: Istimewa)
Khairul Jasmi (Foto: Istimewa)




  1. Bad Iburg, jam gereja, 1892




  2. Lüchtringen, gereja, dipasang 12 September 1903




  3. Zeddam di Belanda, gereja Sint-Oswaldus, 19




  4. Datteln, gereja biara St. Dominikus, sekitar pergantian abad




  5. Mellrich, gereja St. Alexander, 1919




  6. Köln-Ehrenfeld, gereja St. Joseph, 1924




  7. Bukittinggi, Jam Gadang, 1926




  8. Aschaffenburg-Leider, gereja St. Laurentius, 1936; jam ini bertugas sampai 2012 dan beratnya sekitar 500 kilogram




  9. Halingen, gereja, 1947




  10. Bamenohl, gereja, 1947




  11. Paderborn, jam katedral, 1954





Sebelas contoh dari satu nama pabrik. Dan, itu baru yang tercatat. Jadi “hanya dua di dunia” itu omong kosong.





Lalu Big Ben? Big Ben bukan saudara Jam Gadang. Mesin dan loncengnya dibuat di Inggris oleh E. Dent & Co., dirancang Edmund Beckett Denison dan dipasang pada 1859. Jauh ke belakang, enam puluh tujuh tahun sebelum Jam Gadang berdiri. Buatan Inggris, bukan Jerman. Beda pabrik, beda negeri, beda zaman. Ciek Singgalang, ciek lai Marapi. Keduanya tidak ada urusan. Satu nenek, satu sepangkat cucu. Jam Gadang sebesar rumah kita; yang di Inggris rumah gadang sambilan ruang. Gadang bana.





Dua: Bukan Hadiah Ratu





Ini mitos yang paling lengket: katanya Jam Gadang hadiah Ratu Belanda untuk sekretaris kota Fort de Kock, Rookmaaker. Indah betul ceritanya. Sayang, tak ada buktinya. Buka koran sezaman. Sumatra-Bode terbitan Padang, 27 Juli 1927, memberitakan peresmian Jam Gadang dua hari sebelumnya, Senin 25 Juli 1927. Siapa yang bicara di hari penting itu? Controleur Fort de Kock, sang demang dan seorang warga Tionghoa. Itu saja. Tak ada nama Ratu. Tak ada utusan istana. Tak ada kata “hadiah”. Het Nieuws terbitan Batavia, 2 Agustus 1927, memberitakan hal yang sama persis. Menaranya, kata koran itu, 27,5 meter, tertinggi di seluruh Hindia Belanda dan akan diterangi listrik pada malam hari begitu Fort de Kock dialiri listrik.





Kalau benar jam itu pemberian Ratu Wilhelmina, mana mungkin koran melewatkannya? Hadiah dari seorang ratu itu berita besar. Tapi, koran-koran itu diam soal ratu. Sebab memang tak ada ratu di situ. Cerita ke cerita saja.





Lalu dari mana uangnya? Bukan dari istana. Laporan resmi pemerintah Hindia yang terbit pada 1928, Rapport van de Commissie van onderzoek, mencatat biaya Jam Gadang sekitar lima belas ribu gulden. Ini, di luar upah kuli dan kerja paksa narapidana. Dari jumlah itu sedikitnya enam ribu gulden diambil dari Pasarfonds, dana pasar kota. Laporan itu bahkan menyebutnya pemborosan uang pasar. Maka yang membangun Jam Gadang adalah dana pasar Fort de Kock sendiri, ditambah keringat kuli dan narapidana. Bukan kemurahan hati seorang ratu di seberang lautan.





Bukti lain ada di anggaran kota. Dalam rancangan anggaran Fort de Kock tahun 1929 yang dimuat Sumatra-Bode edisi 24 Desember 1928, nama Djam Gadang sudah jadi patokan ruas jalan yang diaspal kota: Belvedère ke Djam Gadang, Djam Gedang ke Tokra. Ensiklopedia Hindia Belanda pun mencatat menara ini dibangun di Raaffplein, tegak di depan pasar. Milik kota dan dirawat kota.





Soal hadiah untuk kita tak ada. Yang ada hadiah untuk ratu dari kita orang Hindia Belanda. Besar benar hati rakyat pribumi pada ratunya di Belanda sama. Lihat kejadian tahun 1937. Ketika Putri Juliana menikah, rakyat Hindia Belanda mengumpulkan dana, badoncek. Pemerintah malah dibatasi lima gulden saja perorang. Uang itu untuk sebuah gelang berlian. Album peringatan resmi mencatatnya berlembar-lembar, lengkap dengan nama firma pembuatnya dan asal berliannya. Pemberian sungguhan ke istana terdokumentasi rapi sampai sekecil-kecilnya. Jam Gadang tak pernah muncul dalam catatan semacam itu. Sebab, memang bukan hadiah Ratu. Ada jelas?





Tiga: Angka Empat Romawi IIII





Ini satu lagi, serantau kita salah. Angka IIII untuk empat, tidak keliru sama sekali. No! Ah, membela-bela saja. Begini:

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Gunung dan Wisata Masa Depan

Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:10 WIB

Jembatan Cinta-nya Rasuna Said

Senin, 3 Agustus 2026 | 20:18 WIB

Berani Jujur Hebat

Selasa, 28 Juli 2026 | 14:59 WIB

Nestapa Perundungan di Sekolah

Selasa, 28 Juli 2026 | 10:30 WIB

Lautaro Martínez dan Dua Asis Messi

Kamis, 16 Juli 2026 | 20:09 WIB

Meluruskan Kesalahan Fatal Jam Gadang

Sabtu, 6 Juni 2026 | 18:14 WIB
X