Saya tidak menafikan bahwa perempuan boleh mandiri. Namun ketika “kemandirian” berubah menjadi alasan melepas komitmen, dan “kebebasan” dijadikan pembenaran keluar dari tanggung jawab, di situlah masalah bermula.
Dalam banyak kasus yang saya lihat, yang runtuh bukan karena tidak mampu bertahan, tetapi karena terlalu mudah memilih untuk meninggalkan.
Perempuan boleh kuat, bahkan lebih mapan secara ekonomi. Tetapi dalam rumah tangga, yang dibutuhkan bukan siapa yang lebih kuat, melainkan siapa yang lebih mampu menjaga.
Penutup
Kartini tidak mengajarkan perempuan meninggalkan perannya, tetapi menguatkannya dengan ilmu dan akhlak.
Hari Kartini seharusnya menjadi refleksi:
apakah kita memahami perjuangannya, atau hanya mengambil “kebebasan”-nya tanpa tanggung jawab?
Kebebasan sejati bukan tentang bisa hidup sendiri, tetapi tentang mampu menjaga apa yang telah diamanahkan. (*)