Hari Kartini: Antara Emansipasi dan Salah Tafsir Kebebasan Perempuan

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Rabu, 22 April 2026 | 22:53 WIB
Tokoh emansipasi wanita, RA Kartini. (Dok. Apps Sides)
Tokoh emansipasi wanita, RA Kartini. (Dok. Apps Sides)



Saya tidak menafikan bahwa perempuan boleh mandiri. Namun ketika “kemandirian” berubah menjadi alasan melepas komitmen, dan “kebebasan” dijadikan pembenaran keluar dari tanggung jawab, di situlah masalah bermula.





Dalam banyak kasus yang saya lihat, yang runtuh bukan karena tidak mampu bertahan, tetapi karena terlalu mudah memilih untuk meninggalkan.





Perempuan boleh kuat, bahkan lebih mapan secara ekonomi. Tetapi dalam rumah tangga, yang dibutuhkan bukan siapa yang lebih kuat, melainkan siapa yang lebih mampu menjaga.





Penutup





Kartini tidak mengajarkan perempuan meninggalkan perannya, tetapi menguatkannya dengan ilmu dan akhlak.





Hari Kartini seharusnya menjadi refleksi:
apakah kita memahami perjuangannya, atau hanya mengambil “kebebasan”-nya tanpa tanggung jawab?





Kebebasan sejati bukan tentang bisa hidup sendiri, tetapi tentang mampu menjaga apa yang telah diamanahkan. (*)


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Gunung dan Wisata Masa Depan

Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:10 WIB

Jembatan Cinta-nya Rasuna Said

Senin, 3 Agustus 2026 | 20:18 WIB

Berani Jujur Hebat

Selasa, 28 Juli 2026 | 14:59 WIB

Nestapa Perundungan di Sekolah

Selasa, 28 Juli 2026 | 10:30 WIB

Lautaro Martínez dan Dua Asis Messi

Kamis, 16 Juli 2026 | 20:09 WIB

Meluruskan Kesalahan Fatal Jam Gadang

Sabtu, 6 Juni 2026 | 18:14 WIB
X