Oleh: Tiara Yulanda, S.H.I
Praktisi Keluarga dan Hukum Islam
Setiap 21 April, kita memperingati Hari Kartini sebagai simbol kebangkitan perempuan. Sosok Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi, memperjuangkan hak perempuan untuk belajar, berpikir dan berkembang di tengah keterbatasan zamannya.
Namun, pertanyaan pentingnya: apakah Kartini dulu sama dengan Kartini sekarang? Jawabannya: tidak sepenuhnya.
Kartini hidup dalam budaya yang membatasi perempuan secara ekstrem. Ia berjuang membuka akses pendidikan dan memuliakan martabat perempuan sebagai manusia yang utuh. Hari ini, tantangannya bukan lagi soal akses, tetapi soal arah dan batas.
Kebebasan dan Pergeseran Makna
Sebagian perempuan kini memaknai emansipasi sebagai kebebasan tanpa batas, lepas dari peran, nilai, bahkan tanggung jawab. Padahal, kebebasan Kartini adalah kebebasan yang bermartabat dan beradab.
Dalam perspektif Islam, perempuan dimuliakan, bukan untuk dibatasi, tetapi untuk dijaga. Peran sebagai istri dan ibu bukan penghalang kemajuan, melainkan fondasi kehidupan.