opini

Ketika Kesakralan Bertemu Tarif

Rabu, 18 Februari 2026 | 19:14 WIB
Ilustrasi ceramah. (Dok. Masjid Istiqlal)



Di sinilah keresahan itu tumbuh, apakah nilai spiritual sedang dikonversi menjadi nilai finansial?





Antara Kebutuhan dan Komodifikasi





Kita tidak menutup mata. Imam memiliki keluarga. Penceramah memiliki kebutuhan hidup. Khatib mengorbankan waktu, tenaga, dan persiapan. Memberikan penghargaan adalah bentuk adab dan penghormatan.





Namun ada perbedaan mendasar antara diberi sebagai bentuk penghormatan,
dan menentukan tarif sebagai prasyarat kehadiran.





Ketika ada standar harga, negosiasi, bahkan persaingan popularitas, maka ruang ibadah mulai bersinggungan dengan mekanisme industri. Dan industri selalu tunduk pada hukum permintaan dan penawaran.





Di titik itu, agama perlahan memasuki wilayah komodifikasi. Bahaya yang datang secara halus yang paling berbahaya bukanlah uangnya. Uang hanyalah alat.





Yang berbahaya adalah pergeseran niat yang terjadi secara perlahan dan tanpa disadari. Jika dibiarkan, dampaknya bisa lebih dalam:






  • Dakwah berubah menjadi ajang pencitraan.




  • Mimbar menjadi panggung performa.




  • Spiritualitas bergeser menjadi branding.




  • Masjid menjadi ruang transaksi simbolik.




  • Agama kehilangan kesederhanaannya.




  • Ruh keikhlasan terkikis oleh logika profesionalisme yang berlebihan.





Akar Keresahan

Halaman:

Tags

Terkini

Gunung dan Wisata Masa Depan

Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:10 WIB

Jembatan Cinta-nya Rasuna Said

Senin, 3 Agustus 2026 | 20:18 WIB

Berani Jujur Hebat

Selasa, 28 Juli 2026 | 14:59 WIB

Nestapa Perundungan di Sekolah

Selasa, 28 Juli 2026 | 10:30 WIB

Lautaro Martínez dan Dua Asis Messi

Kamis, 16 Juli 2026 | 20:09 WIB

Meluruskan Kesalahan Fatal Jam Gadang

Sabtu, 6 Juni 2026 | 18:14 WIB