Di sinilah keresahan itu tumbuh, apakah nilai spiritual sedang dikonversi menjadi nilai finansial?
Antara Kebutuhan dan Komodifikasi
Kita tidak menutup mata. Imam memiliki keluarga. Penceramah memiliki kebutuhan hidup. Khatib mengorbankan waktu, tenaga, dan persiapan. Memberikan penghargaan adalah bentuk adab dan penghormatan.
Namun ada perbedaan mendasar antara diberi sebagai bentuk penghormatan,
dan menentukan tarif sebagai prasyarat kehadiran.
Ketika ada standar harga, negosiasi, bahkan persaingan popularitas, maka ruang ibadah mulai bersinggungan dengan mekanisme industri. Dan industri selalu tunduk pada hukum permintaan dan penawaran.
Di titik itu, agama perlahan memasuki wilayah komodifikasi. Bahaya yang datang secara halus yang paling berbahaya bukanlah uangnya. Uang hanyalah alat.
Yang berbahaya adalah pergeseran niat yang terjadi secara perlahan dan tanpa disadari. Jika dibiarkan, dampaknya bisa lebih dalam:
- Dakwah berubah menjadi ajang pencitraan.
- Mimbar menjadi panggung performa.
- Spiritualitas bergeser menjadi branding.
- Masjid menjadi ruang transaksi simbolik.
- Agama kehilangan kesederhanaannya.
- Ruh keikhlasan terkikis oleh logika profesionalisme yang berlebihan.
Akar Keresahan