Fenomena ini tidak lahir dari ruang hampa. Kita hidup dalam sistem ekonomi yang menjadikan hampir semua aspek kehidupan sebagai komoditas. Pendidikan dikomersialkan. Kesehatan dikomersialkan.
Bahkan waktu bersama keluarga sering dikalkulasi dengan nilai produktivitas.
Dalam sistem seperti ini, wajar jika aktivitas keagamaan ikut terdorong ke dalam arus yang sama.
Namun justru di situlah letak ujian kita. Bulan suci seharusnya menjadi momentum mengurangi dominasi materi dalam hidup, bukan memperhalus cara mencarinya.
Keresahan ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Ini adalah ajakan untuk merenung bersama.
Agar kegiatan yang sakral tetap dijaga kesuciannya. Agar niat tetap lurus. Agar agama tetap menjadi cahaya penuntun, bukan sekadar bagian dari mekanisme pasar.
Semoga kita mampu menjaga kemurnian pengabdian, terutama di bulan yang penuh berkah. (*)