opini

Puasa, Kuasa, dan Kesombongan yang Dibungkus Kesalehan

Selasa, 17 Februari 2026 | 23:03 WIB
Praktisi Keluarga dan Hukum Islam. (Dok. Pribadi)



Allah secara jelas memberikan rukhsah bagi ibu hamil dan menyusui. Ini bukan celah hukum, bukan dispensasi darurat, dan bukan toleransi sosial.





Ini adalah ketentuan syariat yang lahir dari kasih sayang Allah kepada perempuan dan amanah kehidupan yang sedang mereka jaga.





Allah sendiri menegaskan:
“…Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 185)





Ayat ini bukan sekadar penjelasan teknis tentang puasa, melainkan prinsip besar syariat Islam: agama ini dibangun di atas rahmat, bukan pemaksaan. Namun yang terjadi, rukhsah justru ditolak dengan dalih “aku masih kuat”.





Pertanyaannya bukan sekadar soal kemampuan fisik, melainkan cara pandang terhadap rahmat Allah.





Apakah kita sedang taat, atau sedang merasa lebih tahu dari Allah tentang apa yang terbaik bagi diri kita dan anak kita?





Lebih mengganggu lagi ketika penolakan terhadap rukhsah dibungkus dengan kebanggaan: “Aku bisa kok puasa, tuh anakku sehat-sehat saja.”





Kalimat ini mungkin dimaksudkan sebagai motivasi, tetapi sering kali terdengar sebagai pamer ketahanan yang meniadakan realitas orang lain. Seolah-olah ibu yang tidak mampu berpuasa kurang niat, kurang iman, atau terlalu memanjakan diri.

Halaman:

Tags

Terkini

Gunung dan Wisata Masa Depan

Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:10 WIB

Jembatan Cinta-nya Rasuna Said

Senin, 3 Agustus 2026 | 20:18 WIB

Berani Jujur Hebat

Selasa, 28 Juli 2026 | 14:59 WIB

Nestapa Perundungan di Sekolah

Selasa, 28 Juli 2026 | 10:30 WIB

Lautaro Martínez dan Dua Asis Messi

Kamis, 16 Juli 2026 | 20:09 WIB

Meluruskan Kesalahan Fatal Jam Gadang

Sabtu, 6 Juni 2026 | 18:14 WIB