Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan dengan sangat jelas:
“Sesungguhnya Allah menyukai apabila rukhsah-Nya diambil, sebagaimana Dia membenci apabila maksiat dilakukan.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)
Hadits ini menegaskan bahwa menerima rukhsah adalah bagian dari ketaatan, bukan bentuk kemalasan.
Maka menolak keringanan yang Allah berikan demi gengsi atau pembuktian diri, bukanlah sikap kehati-hatian beragama, melainkan berpotensi menjadi kesombongan spiritual yang dibungkus kesalehan.
Realitas yang Disenyapkan
Di sisi lain, ada suara yang jarang diberi ruang: Ibu yang mencoba puasa namun tubuhnya lemas, ASI berkurang, anak menjadi rewel, bahkan ikut lemah. Ini bukan cerita dramatis, ini pengalaman nyata.
Namun alih-alih empati, yang datang justru nasihat kosong: “Mungkin niatnya kurang.”
“Coba dibiasakan.”
Seakan-akan tubuh perempuan adalah mesin yang bisa dipaksa, dan anak adalah variabel yang bisa diabaikan.