“Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami.”
(QS. Al-A’raf: 179)
Ini menunjukkan bahwa tidak berpikir bukan sekadar kelemahan intelektual, tetapi persoalan etika dan spiritual.
Memutus Feodalisme, Memurnikan Adab
Melepaskan feodalisme bukan berarti menghilangkan adab, melainkan memurnikannya.
- Pertama, memisahkan otoritas ilmu dari otoritas jabatan. Dalam Islam, kemuliaan tidak diukur dari posisi struktural:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
- Kedua, menghidupkan budaya kritik yang santun. Kritik yang berbasis argumen adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Agama adalah nasihat.” (HR. Muslim)
- Ketiga, keteladanan pendidik dalam kerendahan hati. Sejarah Islam mencatat bagaimana Umar bin Khattab RA menerima koreksi dari rakyat biasa secara terbuka. Ini adalah adab sejati: tunduk pada kebenaran, bukan pada ego dan jabatan.
- Keempat, mengubah kelas menjadi ruang dialog. Pendidikan seharusnya menjadi proses pencarian kebenaran bersama, bukan mimbar kekuasaan satu arah.
Penutup
Adab yang disalahpahami telah menjadi akar feodalisme dalam pendidikan Indonesia. Atas nama kesopanan, nalar dibungkam.