opini

Mengabaikan Suara Ibu, Menjaga Keutuhan Rumah Tangga

Jumat, 2 Januari 2026 | 16:52 WIB
Ilustrasi ibu dan anak. (Dok. Pixabay)




  • dipaksa memahami tanpa dipahami,




  • diminta kuat tanpa diberi ruang rapuh,




  • dan dibungkam atas nama keutuhan,





Akan mengalami kelelahan batin yang perlahan tapi pasti. Rumah mungkin tampak utuh, tetapi kehangatan dan rasa aman di dalamnya mulai runtuh.





Perspektif Hukum Keluarga Islam





Dalam hukum keluarga Islam, istri bukan sekadar pelengkap peran domestik. Ia adalah subjek hukum yang memiliki hak atas perlindungan jiwa dan kehormatan. Prinsip mu‘asyarah bil ma‘ruf menegaskan bahwa relasi suami-istri dibangun atas dasar kebaikan, kepatutan, dan penghormatan, termasuk dalam aspek emosional.





Allah ﷻ berfirman:
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An-Nisa: 19)





Ayat ini menegaskan bahwa memperlakukan istri dengan baik tidak cukup hanya dalam bentuk nafkah lahir, tetapi juga mencakup mendengar, memahami, dan menjaga kesehatan jiwanya.





Dalam maqashid syariah, menjaga jiwa (hifzh an-nafs) adalah tujuan utama syariat, termasuk jiwa seorang ibu. Mengabaikan suara istri berarti mengabaikan salah satu pilar kemaslahatan keluarga.





Sebuah Refleksi Pribadi





Sebagai seorang ibu dan istri, penulis melihat bahwa banyak perempuan belajar diam bukan karena tidak memiliki suara, melainkan karena terlalu sering merasa suaranya tidak sampai. Diam dipilih demi menjaga rumah tetap tenang, meski harus mengorbankan isi hati sendiri.

Halaman:

Tags

Terkini

Gunung dan Wisata Masa Depan

Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:10 WIB

Jembatan Cinta-nya Rasuna Said

Senin, 3 Agustus 2026 | 20:18 WIB

Berani Jujur Hebat

Selasa, 28 Juli 2026 | 14:59 WIB

Nestapa Perundungan di Sekolah

Selasa, 28 Juli 2026 | 10:30 WIB

Lautaro Martínez dan Dua Asis Messi

Kamis, 16 Juli 2026 | 20:09 WIB

Meluruskan Kesalahan Fatal Jam Gadang

Sabtu, 6 Juni 2026 | 18:14 WIB