Oleh: Tiara Yulanda, S.H.I
Praktisi Hukum Keluarga
Dalam banyak rumah tangga, ibu atau istri sering disebut sebagai “jantung keluarga”. Namun ironisnya, justru suara dari jantung inilah yang kerap diabaikan. Ia hadir paling awal dan pulang paling akhir dalam urusan batin keluarga, tetapi ketika ia berbicara tentang lelah, luka, atau kegelisahan jiwanya, respons yang ia terima sering kali adalah diam, penyangkalan, atau pengabaian.
Padahal, mengabaikan suara ibu bukan persoalan sepele, ia adalah awal dari kerusakan psikologis yang merambat ke seluruh bangunan rumah tangga.
Ibu sebagai Penjaga Stabilitas Psikologis
Dalam kajian psikologi keluarga, ibu memegang peran sebagai emotional anchor. Ia menjadi penentu ritme emosi anak, penyeimbang relasi suami-istri, serta penjaga suasana batin rumah.
Ketika kondisi psikologis ibu terganggu, dampaknya tidak berdiri sendiri, melainkan menyebar ke seluruh anggota keluarga.
Ibu yang terus-menerus: