Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk menyusun pesan dengan hati-hati, menggunakan kalimat yang sopan dan memberi ruang waktu bagi dosen untuk merespons. Misalnya, lebih baik menggunakan ungkapan seperti:
“Mohon izin Ibu/Bapak, apabila berkenan, saya ingin menanyakan apakah ada masukan lebih lanjut terkait draf yang saya kirim sebelumnya.”
Dengan pilihan kata yang lebih halus dan menghargai, komunikasi akan terasa lebih nyaman, dan peluang mendapatkan respons pun menjadi lebih besar.
- Waktu yang Tidak Tepat
Waktu penyampaian pesan juga sangat menentukan. Mahasiswa sering kali menghubungi dosen di luar jam kerja, bahkan larut malam atau saat akhir pekan, tanpa mempertimbangkan bahwa dosen juga memiliki ritme kerja dan kehidupan pribadi.
Komunikasi yang sehat adalah komunikasi yang beretika waktu. Kirimlah pesan di jam kerja, hindari mendadak, dan beri ruang waktu bagi dosen untuk menjawab. Ini akan menunjukkan bahwa mahasiswa menghargai keberadaan dan kesibukan dosennya.
- Kurangnya Kontinuitas
Komunikasi yang hanya terjadi saat deadline mendekat adalah gejala umum yang bisa merusak proses bimbingan. Mahasiswa yang jarang memberi kabar, lalu tiba-tiba meminta tanda tangan atau revisi kilat, membuat proses bimbingan kehilangan makna.
Idealnya, komunikasi dijaga secara berkelanjutan. Tidak harus setiap minggu, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa mahasiswa benar-benar mengerjakan dan merefleksikan hasil bimbingan sebelumnya. Ini membangun kepercayaan dan membantu dosen memberikan arahan yang lebih tajam dan terarah.
Refleksi Bagi Mahasiswa dan Dosen