Oleh: Dr Ernita Arif, M.Si
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Andalas
Tidak sedikit proses bimbingan akademik yang gagal bukan karena isi karya ilmiah yang buruk, tetapi karena gagalnya komunikasi antara mahasiswa dan dosen.
Di balik ruang-ruang konsultasi dan tumpukan revisi, konflik sering kali muncul bukan karena kurangnya kemampuan intelektual, melainkan karena pesan yang disalahpahami, waktu yang tidak tepat, atau komunikasi yang terputus.
Mahasiswa merasa dosennya tidak responsif, terlalu sibuk, bahkan kurang peduli. Sebaliknya, dosen merasa mahasiswa datang seenaknya, tidak sopan dalam menyusun pesan, dan hanya muncul ketika tenggat sudah di depan mata.
Ironisnya, semua ini terjadi dalam ruang yang seharusnya jadi tempat tumbuh dan saling mendukung.
Sebagai akademisi dan pembimbing, saya kerap mendengar kisah mahasiswa yang merasa “diabaikan atau dipersulit” oleh dosennya, sementara disisi lain, saya juga menyaksikan kolega yang kewalahan menghadapi mahasiswa yang tidak tahu etika komunikasi.
Fenomena ini bukan hanya merugikan mahasiswa, tetapi juga menciptakan citra yang keliru terhadap dosen seolah tidak membantu, kurang responsive dan sulit dihungi padahal bisa jadi komunikasi yang kurang tepatlah sumber masalahnya.