Rendahnya kemampuan adaptasi terhadap kehidupan kampus dapat berdampak pada kegagalan menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi ataupun lulus tidak tepat waktu.
Sebaliknya, keberhasilan transisi dari sekolah menengah ke perguruan tinggi ditentukan oleh kemampuan, persepsi, sikap, dan tingkah laku yang memandu mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan baru, baik secara akademik maupun sosial.
Kecenderungan mahasiswa untuk mencapai keberhasilan transisi ke lingkungan perguruan tinggi, menurut Conley (2008) merupakan fungsi dari kesiapan kuliah (college readiness). Para ahli sepakat bahwa kesiapan kuliah melibatkan sejumlah aspek yang berkaitan dengan kemampuan kognitif dan keterampilan sosial interpersonal.
Penyelesaian tugas-tugas tingkat kuliah membutuhkan sejumlah keterampilan berpikir, berupa keterbukaan, keingintahuan, penalaran dan analisis, serta pemecahan masalah. Kemampuan ini telah dipersiapkan sejak sekolah menengah seiring dengan pengalaman belajar yang diikuti di sekolah.
Selanjutnya, mahasiswa yang siap kuliah juga perlu menguasai keterampilan menulis ilmiah dan meneliti. Menulis merupakan keterampilan yang diperoleh dari berlatih. Tugas-tugas perkuliahan, berupa esai ataupun makalah merupakan kesempatan mahasiswa untuk mengasah keterampilan menulisnya sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah.
Sementara itu, mahasiswa juga diharapkan dapat mengembangkan keterampilan belajar dan keterampilan pemantauan diri. Secara umum, kesiapan belajar ditentukan oleh faktor diri dan kondisi sosial di sekitarnya.
Mahasiswa dengan rasa ingin tahu dan hasrat belajar yang tinggi cenderung memiliki kepercayaan dan keyakinan diri agar mampu memahami instruksi perkuliahan secara lisan. Sementara itu, kualitas dosen/pengajar, kualitas mata kuliah, dan lingkungan rumah, dapat menjadi faktor pendukung dan sekaligus penghambat bagi kesiapan kuliah mahasiswa.