B. Perspektif Kearifan Lokal: Menghidupkan Ingek-Ingek Sabalun Kanai
Masyarakat Minangkabau memiliki filosofi hidup yang sangat preventif dan sarat akan mitigasi bencana. Sayangnya, nilai-nilai ini mulai tergerus zaman digital. Mari kita hidupkan kembali:
Ingek-ingek sabalun kanai, kulimek sabalun abih Petatah ini mengajarkan kita untuk selalu waspada dan mengantisipasi bahaya sebelum bencana itu benar-benar terjadi. Waspada terhadap potensi api di rumah adalah cerminan dari orang Minang yang cadiak (cerdas).
Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari akibat kecerobohan yang kita buat sendiri.
Optimalisasi Fungsi Lingkungan: Dulu, arsitektur rumah gadang dirancang adaptif terhadap bencana. Di era modern ini, kearifan lokal bisa diterjemahkan dengan gotong royong menjaga kebersihan lingkungan dari sampah yang mudah terbakar dan tidak menutup akses jalan publik yang bisa menjadi jalur evakuasi.
C. Perspektif Kepedulian Sosial; Dari Saciok Bak Ayam hingga "Ronda Digital"
Ikatan sosial di perkotaan cenderung menipis menjadi individualis.
Padahal, api tidak pernah memilih rumah siapa yang akan dibakarnya; rumah tetangga yang terbakar adalah ancaman langsung bagi rumah kita.
Saciok bak ayam, saiciak bak sajo: Kebersamaan dan kesatuan hati harus dibangkitkan lagi. Peduli terhadap tetangga bukan berarti kepo (ikut campur urusan pribadi), melainkan saling menjaga.