Kondisi lingkungan hidup Kota Padang saat ini berada dalam status siaga kritis ekologis, dicirikan oleh ketidakseimbangan akut antara infrastruktur kota dan daya dukung alamnya:
Timbulan Sampah Masif: Kota Padang memproduksi sekitar 700 hingga 750 ton sampah per hari, di mana kapasitas reduksi mandiri di tingkat hulu masih sangat minim.
Krisis Daerah Resapan: Studi planologi berbasis lanskap menunjukkan bahwa kawasan tangkapan air di sektor barat dan tengah Kota Padang telah mencapai tahap kritis karena tertutup oleh perkerasan beton dan aspal.
Kerapuhan Jalur Aliran Air: Struktur topografi Padang dialiri oleh 21 aliran sungai (termasuk 4 sungai besar: Batang Arau, Batang Kuranji, Batang Air Dingin, dan Batang Kandis). Saat ini, hampir seluruh badan sungai tersebut mengalami pendangkalan parah akibat sedimentasi lumpur dari hulu serta sumbatan sampah domestik di area hilir.
Faktor Penyebab Banjir di Kota Padang
Banjir di Kota Padang terjadi akibat akumulasi faktor biofisik, kegagalan tata ruang, dan degradasi moralitas sosiologis, yang berakar pada ketidakseimbangan sistemik:
Kerusakan DAS dan Ekologi Hulu: Pembalakan liar dan konversi hutan lindung di kawasan perbukitan timur (seperti di Kecamatan Pauh dan Lubuk Kilangan) merusak Daerah Aliran Sungai (DAS). Air hujan tidak lagi meresap ke dalam tanah, melainkan langsung meluncur ke bawah sebagai surface runoff (air limpasan permukaan).
Inkonsistensi Tata Ruang (Planologi): Daerah rawa, situ, dan kawasan genangan alami yang berfungsi sebagai "spons" penahan air kini beralih fungsi secara masif menjadi kawasan perumahan dan ruko, terutama di zona pertumbuhan baru seperti Kecamatan Koto Tangah. Hal ini melanggar daya dukung lingkungan yang tertuang dalam perencanaan wilayah.
Disfungsi Sistem Drainase Kota. Saluran drainase perkotaan banyak yang mati, menyempit, atau tidak terintegrasi secara hidrologis. Banyak sistem drainase primer dipaksa menampung volume air yang melampaui kapasitas desainnya.