Jadi ketika seorang wanita bersuami tertarik pada berondong muda, sering kali bukan karena ia tiba-tiba ingin “kembali ABG”.
Kadang ia cuma rindu merasa diinginkan lagi. Rindu dipuji tanpa diminta. Rindu ada orang yang membalas chat cepat. Rindu tubuhnya tidak dianggap biasa. Rindu dirinya dilihat bukan sebagai ibu, istri, pengurus rumah, partner bayar cicilan, atau perempuan yang “sudah pasti ada”.
Berondong memberi sensasi hidup. Bukan selalu cinta. Lebih sering seperti cermin yang bilang, “kamu masih menarik.” Dan untuk perempuan yang lama merasa pudar di rumah sendiri, kalimat seperti itu bisa berbahaya sekali.
Riset PNAS yang dibahas luas pada 2025 juga menarik, baik laki-laki maupun perempuan ternyata punya kecenderungan menyukai pasangan yang lebih muda dalam konteks ketertarikan awal, meski norma sosial sering membuat perempuan tampak lebih memilih pria lebih tua.
Tapi berondong punya risiko psikologis paling impulsif. Ia membawa dopamine. Membawa gairah. Membawa rasa “aku hidup lagi”. Namun sering kurang membawa struktur.
Dan perempuan yang sedang lapar validasi kadang salah membaca perhatian sebagai komitmen. Di sini tragedinya mulai pelan-pelan.
Duda berbeda. Duda biasanya tidak menjual ledakan. Ia menjual pemahaman. Ada pengalaman gagal. Ada luka yang terlihat matang. Ada cara bicara yang terasa lebih “ngerti hidup”.
Bagi wanita bersuami yang merasa suaminya kaku, dingin, atau terlalu sibuk menjadi kepala keluarga sampai lupa menjadi teman bicara, duda bisa tampak seperti tempat pulang kedua.