Sebagai pendidik Pendidikan Agama Islam, saya melihat bahwa pendidikan bencana seharusnya menjadi bagian dari tarbiyah. Mengapa?
Karena menjaga jiwa (hifzhun nafs) adalah salah satu tujuan utama maqashid al-shariah. Dan mitigasi bencana adalah bentuk paling konkret dari menjaga jiwa.
Profesional manapun dapat mengajarkan teknik penyelamatan, tetapi pendidik agama mengajarkan nilai bahwa hidup adalah amanah, akhlak bahwa keselamatan harus kolektif, bukan individual, kesadaran spiritual bahwa manusia harus rendah hati di hadapan kekuatan alam, serta etika lingkungan bahwa kerusakan alam memperparah bencana.
Pendidikan Agama Islam dapat menjadi benteng moral agar masyarakat tidak hanya tahu, tetapi taat pada aturan-aturan keselamatan.
Kesiapan Mental: Bencana Sebagai Ujian, Bukan Kepanikan
Dalam banyak bencana, korban terbesar bukan hanya fisik, tetapi psikis. Islam mengajarkan ketenangan, “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Yusuf:87)
Seorang muslim yang terdidik secara spiritual akan lebih siap secara mental: lebih tenang dalam mengambil keputusan, lebih cepat menolong sesama, lebih kuat dalam menghadapi kehilangan, dan lebih mudah kembali bangkit.