"Harga yang kami temukan di agen Rp15.000 dan di pangkalan Rp17.000. Jadi, masih sesuai dengan HET yang tercantum pada papan informasi," ujarnya.
Meski stok dinyatakan aman dalam pemeriksaan, Satgas belum berhenti pada pengecekan fisik. Tim akan mencocokkan jadwal pasokan dari Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE), menelusuri riwayat kekosongan selama satu bulan terakhir, serta memeriksa perubahan jumlah pasokan yang diterima setiap agen.
Langkah tersebut dilakukan menyusul laporan kekurangan pasokan dari pangkalan yang muncul beberapa waktu lalu. Satgas ingin memastikan laporan itu sesuai dengan data distribusi dan kondisi aktual. Dalam sidak kali ini, petugas tidak menemukan indikasi kelangkaan maupun keluhan masyarakat terkait tersendatnya distribusi LPG 3 kg.
"Kita ingin melihat datanya secara utuh, bukan hanya berdasarkan laporan. Karena itu, riwayat pasokan dan kekosongan stok akan kita cocokkan dengan kondisi di lapangan," katanya.
Alokasi LPG Payakumbuh Capai 6.300 Mega Ton per Tahun
Kota Payakumbuh saat ini memiliki alokasi LPG 3 kg sebesar 6.300 mega ton per tahun. Jumlah tersebut tergolong tinggi jika dibandingkan dengan beberapa daerah lain di Sumatera Barat.
Sebagai perbandingan, alokasi LPG di Kota Sawahlunto tercatat 2.000 mega ton per tahun, Kota Pariaman 1.900 mega ton, Kota Solok 1.700 mega ton, dan Kota Bukittinggi 3.000 mega ton.
Meski memiliki alokasi yang relatif besar, salah satu agen di Payakumbuh mengajukan permohonan penambahan kuota pasokan. Satgas akan mengaudit dan memeriksa data secara menyeluruh sebelum meneruskan permintaan tersebut kepada pihak terkait.
Arifianto menegaskan, usulan penambahan kuota tidak akan langsung diteruskan tanpa bukti yang mendukung. Pemerintah akan memastikan terlebih dahulu apakah kekurangan pasokan benar-benar terjadi dan dapat dibuktikan melalui data.