Meski demikian, mengurangi aktivitas di luar rumah bukan berarti persoalan paparan polusi otomatis selesai. Kualitas udara di dalam ruangan juga perlu diperhatikan karena polutan yang berasal dari luar tetap dapat masuk ke dalam rumah.
Bagi masyarakat yang harus tetap beraktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk, penggunaan masker dengan kemampuan filtrasi tinggi dapat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi paparan. Salah satu jenis masker yang disebut dapat membantu menyaring partikel halus, khususnya PM2.5, adalah N95.
"Selain melakukan pencegahan, masyarakat juga perlu mengenali perubahan kondisi tubuh ketika berada dalam lingkungan dengan kualitas udara yang buruk. Beberapa keluhan yang patut diperhatikan antara lain sesak napas, batuk berat, hingga pusing, kata Hardisman.
Ketika gejala tersebut muncul, langkah awal yang perlu dilakukan adalah segera menjauh dari sumber pencemaran dan mencari tempat dengan kualitas udara yang lebih baik.
Namun, berpindah ke lokasi dengan udara yang lebih segar tidak selalu cukup apabila paparan polusi sudah menyebabkan gangguan pernapasan dan menghambat pemenuhan kebutuhan oksigen tubuh.
Dalam kondisi ketika gangguan pernapasan semakin berat, masyarakat perlu segera mencari pertolongan di fasilitas pelayanan kesehatan. Penanganan medis menjadi penting ketika keluhan tidak lagi dapat diatasi hanya dengan mengurangi paparan terhadap udara tercemar.
Lebih jauh Hardisman kembali menekankan bahwa kelompok rentan membutuhkan perhatian lebih dalam menghadapi penurunan kualitas udara. Penderita asma dan PPOK menjadi kelompok yang perlu melakukan langkah perlindungan secara lebih serius karena memiliki risiko mengalami perburukan keluhan pernapasan.