Paparan polutan dapat memicu sejumlah proses fisiologis dan patofisiologis yang berhubungan dengan kerusakan pembuluh darah. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan pembentukan plak yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko terhadap kesehatan jantung dan otak.
Karena itu, tingkat risiko yang diterima tubuh tidak dapat hanya dilihat dari seberapa lama seseorang berada di tengah kondisi udara tercemar. Ada sejumlah faktor lain yang turut menentukan dampak paparan.
Hardisman menyebut konsentrasi zat pencemar, jenis polutan, serta kondisi kesehatan seseorang sebagai beberapa faktor yang memengaruhi tingkat risiko. Artinya, paparan dengan durasi yang sama belum tentu memberikan dampak yang sama kepada setiap orang.
"Jenis polutan yang terdapat di udara juga dapat berbeda-beda berdasarkan sumber pencemar. Asap yang berasal dari aktivitas industri, kebakaran rumah, maupun kebakaran hutan dapat membawa kandungan zat yang berbeda," ungkapnya.
Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh material yang terbakar serta tingkat kesempurnaan proses pembakaran. Dalam proses pembakaran yang tidak sempurna, misalnya, dapat terbentuk karbon monoksida atau CO.
Zat tersebut memiliki risiko tersendiri bagi tubuh karena dapat mengganggu kemampuan hemoglobin dalam membawa oksigen. Akibatnya, pasokan oksigen yang dibutuhkan jaringan tubuh dapat mengalami hambatan.
Selain karbon monoksida, paparan dalam jangka panjang terhadap zat hasil pembakaran yang bersifat karsinogen juga perlu diperhatikan. Paparan terhadap zat tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker.
Untuk menekan risiko akibat polusi udara, Prof. Hardisman menyarankan masyarakat membatasi kegiatan di luar ruangan ketika kualitas udara sedang memburuk. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi jumlah paparan terhadap polutan yang masuk ke tubuh.