Peristiwa itu kemudian menjadi salah satu pelajaran penting bagi Kota Padang dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Selain keluarga korban, peringatan tersebut dihadiri Sekretaris Utama (Sestama) BNPB, Rustian, unsur Forkopimda Kota Padang, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Padang, Raju Minropa Chaniago bersama para asisten dan Kepala Operasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemko Padang.
Turut hadir Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar, Fauzi Bahar Datuak Sati yang juga merupakan Wali Kota Padang periode 2004-2014, para pegiat kebencanaan, serta perwakilan keluarga korban gempa Padang 30 September 2009.
Fadly mengatakan, peringatan HKB tidak seharusnya berhenti sebagai kegiatan mengenang peristiwa masa lalu. Menurut dia, pengalaman dari bencana 30 September 2009 harus digunakan untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman bencana pada masa mendatang.
“Peringatan ini mengingatkan kita bahwa ketika bencana kembali terjadi, masyarakat harus lebih siap, mampu menekan risiko dan bangkit dengan cepat," ucapnya.
Menurut Fadly, kesiapsiagaan tidak dapat hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur. Upaya tersebut harus berjalan bersama perencanaan, koordinasi, komunikasi, dan edukasi kepada masyarakat.
Pemko Padang, katanya, terus menyiapkan latihan kesiapsiagaan tsunami atau tsunami drill.
Latihan tersebut ditujukan untuk menguji sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana, khususnya ancaman tsunami.