Berdasarkan interpretasi awal terhadap citra drone, Google Earth, dan topografi DEM, zona inisiasi longsoran diperkirakan berada di lereng atas Gunung Talang, kemungkinan pada elevasi sekitar 2.000 mdpl.
Namun, elevasi tersebut belum menjadi angka final. Posisi pastinya masih perlu dikonfirmasi melalui pencocokan lokasi scar dengan DEM.
Jika material longsor jatuh di lereng yang tidak terhubung dengan lembah, sebagian material dapat berhenti setelah berpindah beberapa ratus meter. Kondisinya berbeda ketika kaki longsoran langsung bermuara ke alur drainase.
Material longsoran dapat bercampur dengan air hujan dan aliran permukaan. Campuran air, tanah, pasir, batu, dan kayu tersebut kemudian bergerak melalui lembah yang curam.
Selama perjalanan, erosi pada dasar dan tebing saluran juga dapat menambahkan material baru. Karena itu, volume material yang tiba di kawasan hilir tidak harus sama dengan volume longsoran awal di bagian hulu.
Hutan Tidak Menjadi Satu-satunya Penjelasan
Hal lain yang menarik perhatian dari rekaman drone adalah lokasi scar besar yang berada di tengah kawasan yang secara visual masih berhutan rapat.
Kondisi tersebut membuat galodo Arosuka tidak cukup dijelaskan hanya sebagai akibat hilangnya hutan. Vegetasi memang memiliki peran dalam stabilitas lereng dan tata air daerah aliran sungai (DAS), tetapi faktor tersebut merupakan salah satu bagian dari sistem yang lebih kompleks.
Gunung api seperti Gunung Talang terbentuk dari material vulkanik yang berasal dari berbagai periode erupsi dan proses pelapukan. Abu, lapili, endapan piroklastik, serta material vulkanik lainnya dapat membentuk lapisan tanah dengan sifat fisik yang berbeda.