berita

Bencana Bisa Putus Interaksi Wilayah di Sumbar, Riset UBH Temukan Titik Risikonya

Kamis, 10 September 2026 | 11:06 WIB
Ketahanan suatu wilayah menghadapi bencana tidak hanya bergantung pada ada atau tidaknya jalan yang menghubungkan satu daerah dengan daerah lain. Keberlangsungan hubungan antarpusat kegiatan juga menjadi bagian penting dalam menjaga fungsi wilayah ketika jaringan transportasi mengalami gangguan. (Foto: UBH)



"Tim mengembangkan kerangka stress testing berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) secara ex-post dengan tiga skenario gangguan, yakni skenario konservatif, moderat, dan terburuk. Analisis dilakukan dengan mengevaluasi fungsi koridor utama dan aksesibilitas alternatif antara Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). Perubahan jarak perjalanan, waktu tempuh, dan tingkat konektivitas digunakan untuk mengukur keberlanjutan interaksi hierarkis antarwilayah," ungkapnya.





Melalui tiga skenario tersebut, peneliti menguji perubahan yang terjadi ketika sejumlah bagian dari jaringan transportasi mengalami gangguan. Pengukuran tidak berhenti pada keberadaan koneksi secara fisik, tetapi juga melihat apakah hubungan antarpusat kegiatan tetap dapat berlangsung.





Hasil penelitian menunjukkan konektivitas fisik saja belum cukup untuk memastikan resiliensi struktur ruang regional. Dalam skenario gangguan moderat, seluruh pasangan asal dan tujuan yang dianalisis masih memiliki hubungan.





Namun, kondisi tersebut tidak berarti sistem tetap bekerja seperti keadaan normal. Penelitian menemukan adanya peningkatan waktu perjalanan yang signifikan. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa aksesibilitas fungsional mengalami penurunan meskipun seluruh pasangan asal dan tujuan masih terhubung.





Temuan berbeda muncul ketika peneliti menerapkan skenario terburuk. Sejumlah koridor utama yang memiliki fungsi kritis mengalami kegagalan. Kondisi tersebut kemudian menyebabkan jaringan mengalami fragmentasi secara luas dan mengganggu fungsi sistem interaksi regional.





"Kondisi yang lebih serius ditemukan pada skenario terburuk. Kegagalan sejumlah koridor utama yang bersifat kritis menyebabkan fragmentasi jaringan secara luas dan mengganggu fungsi sistem interaksi regional. Temuan tersebut memperlihatkan gangguan transportasi dapat berdampak lebih luas terhadap sistem wilayah, terutama terhadap hubungan hierarkis antara pusat-pusat kegiatan," imbuh Kepala Divisi Perencanaan Sumber Daya dan Manajemen Risiko Universitas Bung Hatta ini.





Penelitian tersebut menegaskan bahwa resiliensi struktur ruang wilayah memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan sekadar mempertahankan keterhubungan jaringan jalan. Sistem transportasi juga harus mampu menjaga interaksi antara pusat-pusat kegiatan ketika wilayah mengalami gangguan akibat bencana.





Pendekatan yang dikembangkan tim peneliti Universitas Bung Hatta sekaligus menghubungkan analisis jaringan transportasi dengan perspektif perencanaan spasial wilayah. Kerangka tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi ketahanan wilayah terhadap bencana, terutama di kawasan pegunungan dan daerah rawan bencana yang memiliki keterbatasan jalur transportasi alternatif.

Halaman:

Tags

Terkini