Sumbardaily.com – Di balik sebatang cokelat yang dinikmati masyarakat, terdapat perjalanan panjang yang dimulai dari kebun-kebun kakao milik jutaan petani kecil di daerah tropis. Namun, tingginya nilai ekonomi kakao belum otomatis membuat kehidupan petaninya ikut sejahtera.
Ironi tersebut menjadi perhatian Dr. Zahlul Ikhsan, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Unand). Menurutnya, ketika permintaan dunia terhadap cokelat terus meningkat dan harga kakao internasional mencapai rekor tertinggi dalam beberapa dekade terakhir, kesejahteraan sebagian besar petani kakao Indonesia belum mengalami perubahan yang berarti.
Kondisi itu memunculkan pertanyaan mendasar mengenai mengapa komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi belum sepenuhnya mampu meningkatkan taraf hidup para produsennya.
Indonesia sendiri masih tercatat sebagai salah satu produsen kakao terbesar dunia. Di sisi lain, industri pengolahan kakao nasional juga berkembang pesat melalui kebijakan hilirisasi.
Kebijakan tersebut mendorong ekspor berbagai produk olahan, seperti cocoa butter, cocoa liquor, dan cocoa powder. Akan tetapi, keberhasilan sektor hilir tersebut belum sepenuhnya diikuti penguatan sektor hulu, khususnya di tingkat kebun rakyat.
Di tingkat petani, masih terdapat sejumlah persoalan, mulai dari produktivitas yang rendah, tanaman yang menua, serangan hama dan penyakit, hingga sistem pemasaran yang belum memberikan insentif memadai terhadap peningkatan kualitas.
Produktivitas Kakao Masih Rendah
Zahlul mengatakan salah satu persoalan paling mendasar dalam pengembangan kakao Indonesia adalah rendahnya produktivitas kebun rakyat.