Dosen Unand Ungkap Alasan Kakao Belum Maksimal Sejahterakan Petani Indonesia

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:02 WIB
Ilustrasi Kakao (Foto: Pexels)
Ilustrasi Kakao (Foto: Pexels)



Rata-rata produktivitas kakao Indonesia masih berada pada kisaran 700-800 kilogram per hektare. Angka tersebut masih jauh di bawah potensi genetik tanaman kakao yang dapat mencapai lebih dari 2 ton per hektare apabila menggunakan bahan tanam unggul dan menerapkan praktik budidaya yang baik.





Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan berada pada keterbatasan sumber daya alam. Menurutnya, persoalan lebih banyak berkaitan dengan belum optimalnya pengelolaan kebun.





Produktivitas yang rendah tidak hanya berdampak terhadap pendapatan petani. Kondisi tersebut juga melemahkan daya saing industri kakao nasional.





Ketika produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan industri pengolahan, Indonesia harus mengimpor sebagian bahan baku dari negara lain, terutama dari Afrika Barat.





Situasi tersebut menjadi ironi tersendiri. Indonesia memiliki industri pengolahan kakao yang terus berkembang, tetapi pasokan dari kebun domestik justru belum mampu menopang kebutuhan industri secara berkelanjutan.





Kakao Fermentasi Belum Mendapat Insentif Layak





Selain produktivitas, persoalan lain yang dihadapi petani adalah mutu hasil panen.





Dalam perdagangan internasional, biji kakao yang difermentasi memiliki kualitas lebih baik karena menghasilkan cita rasa dan aroma yang lebih kompleks. Fermentasi juga menjadi salah satu syarat penting untuk memasuki pasar premium.





Namun, sebagian besar petani kakao Indonesia masih menjual hasil panen tanpa melalui proses fermentasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X