Ketiga jenis lamun yang ditemukan di tiga wilayah tersebut adalah Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii dan Cymodocea rotundata.
Analisis terhadap data hasil pengamatan kemudian menunjukkan indeks kesehatan lamun di perairan Sumatera Barat berada pada rentang 0,52 hingga 0,69. Nilai tersebut menggambarkan kondisi ekosistem lamun dalam status buruk sampai sedang.
Tim peneliti menemukan sejumlah faktor yang dapat berkontribusi terhadap penurunan luasan maupun kondisi kesehatan padang lamun di perairan Sumatera Barat. Salah satunya adalah tingginya tutupan makroalga.
Keberadaan makroalga dalam jumlah tinggi dapat menimbulkan kompetisi dengan lamun dalam memanfaatkan ruang dan nutrien. Selain itu, tingkat kecerahan perairan, aktivitas penangkapan ikan, perubahan cuaca ekstrem dan sedimentasi yang tinggi juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi kondisi ekosistem lamun.
Suparno bersama tim berharap hasil kajian indeks kesehatan ekosistem lamun dapat digunakan sebagai salah satu indikator kesehatan perairan pesisir Sumatera Barat. Data tersebut diharapkan dapat mendukung pemerintah dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan kelautan berbasis data ilmiah.
Selain itu, hasil penelitian diharapkan dapat dikembangkan menjadi artikel ilmiah internasional bereputasi. Dengan demikian, informasi mengenai kondisi padang lamun di Sumatera Barat tidak hanya menjadi bahan evaluasi, tetapi juga dapat memperkaya informasi ilmiah mengenai ekosistem pesisir.
Tim peneliti juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam menjaga keberadaan padang lamun. Ekosistem tersebut berkaitan dengan keberlangsungan masyarakat pesisir karena menjadi salah satu kawasan penyedia stok ikan dan biota laut yang memiliki nilai ekonomi.