berita

Bukan Cuma Produksi Susu, Perubahan Iklim Juga Ganggu Reproduksi Ternak

Kamis, 13 Agustus 2026 | 19:12 WIB
Ilustrasi Perubahan Iklim (Foto: Pixabay)


Sumbardaily.com – Kenaikan suhu udara di Indonesia yang terus terjadi selama empat dekade terakhir dinilai membawa ancaman serius yang belum banyak disadari oleh masyarakat, yakni terganggunya kemampuan reproduksi ternak.





Peringatan ini disampaikan oleh Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas (Unand), Ananda, yang menyoroti bahwa dampak perubahan iklim terhadap sektor peternakan tidak hanya berhenti pada urusan pakan dan produksi susu, melainkan menyentuh fondasi paling mendasar dari keberlanjutan populasi ternak.





Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu udara rata-rata Indonesia tercatat meningkat sekitar 1,02 derajat Celsius sepanjang periode 1981 hingga 2024. Rinciannya, suhu maksimum naik 0,85 derajat Celsius, sementara suhu minimum justru meningkat lebih tajam, yaitu 1,64 derajat Celsius dalam kurun 44 tahun tersebut.





"Pemanasan bukan lagi sekadar ancaman masa depan, melainkan perubahan yang sedang berlangsung di sekitar kita," ujar Ananda, dikutip dari Kepakaran Unand, Kamis (13/8/2026).





Selama Ini Fokus Hanya pada Produksi





Menurut Ananda, keberhasilan pembangunan peternakan selama ini kerap dinilai semata dari sisi peningkatan produksi, seperti naiknya jumlah susu atau bertambahnya bobot badan ternak. Cara pandang tersebut, kata dia, tidak sepenuhnya salah namun belum lengkap karena mengabaikan aspek yang menjadi fondasi keberlanjutan, yaitu reproduksi.





"Tidak akan ada susu tanpa induk yang berhasil bunting. Tidak akan ada penambahan populasi sapi potong tanpa pedet yang lahir. Ketika reproduksi terganggu, penurunan produksi pada akhirnya hanya tinggal menunggu waktu," tegasnya.





Cekaman Panas Ganggu Hormon hingga Kualitas Sel Telur





Ananda menjelaskan, suhu tinggi yang disertai kelembapan menyebabkan ternak mengalami cekaman panas. Tubuh ternak dipaksa bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tetap stabil, ditandai dengan meningkatnya frekuensi pernapasan dan denyut jantung, sehingga energi yang seharusnya dialokasikan untuk fungsi reproduksi menjadi berkurang.


Halaman:

Tags

Terkini