Bukan Cuma Produksi Susu, Perubahan Iklim Juga Ganggu Reproduksi Ternak

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Kamis, 13 Agustus 2026 | 19:12 WIB
Ilustrasi Perubahan Iklim (Foto: Pixabay)
Ilustrasi Perubahan Iklim (Foto: Pixabay)



Pada ternak betina, cekaman panas dapat mengacaukan keseimbangan hormon, melemahkan tanda birahi, menghambat ovulasi, serta menurunkan kualitas sel telur dan embrio. Sementara pada ternak jantan, panas berpotensi mengganggu pembentukan sperma, menurunkan daya geraknya, dan meningkatkan risiko kelainan bentuk. Ternak yang sudah bunting pun tidak luput dari risiko, sebab panas dapat memengaruhi lingkungan rahim, fungsi plasenta, dan pertumbuhan janin.





Yang membuat ancaman ini sulit dikenali, lanjut Ananda, adalah gejalanya tidak selalu tampak secara langsung. Seekor sapi bisa saja terlihat sehat dan tetap berproduksi, padahal proses biologis di dalam tubuhnya sudah mengalami perubahan.





"Paparan panas hari ini dapat memengaruhi keberhasilan kebuntingan beberapa minggu atau bulan kemudian. Perubahan iklim meninggalkan jejak biologis yang sering baru disadari ketika angka kebuntingan menurun, masa kosong setelah melahirkan memanjang, atau jarak antar kelahiran menjadi lebih lama," jelasnya.





Ia menambahkan, pada tingkat sel, cekaman panas dapat meningkatkan pembentukan radikal bebas yang mengganggu keseimbangan sel dan menurunkan fungsi mitokondria sebagai penghasil energi. Padahal energi tersebut dibutuhkan agar sel telur matang, sperma dapat bergerak, dan embrio berkembang dengan baik.





Sudah Terjadi di Bogor dan Kalimantan Tengah





Ananda memaparkan, ancaman ini bukan sekadar temuan laboratorium semata. Penelitian pada peternakan sapi perah di Kabupaten Bogor menunjukkan bahwa lokasi dengan tekanan panas lebih tinggi memiliki masa kosong reproduksi yang lebih panjang, meski faktor pakan, kesehatan, dan pengelolaan inseminasi juga turut berperan.





Sementara itu, penelitian di lahan gambut Kalimantan Tengah mencatat indeks suhu dan kelembapan kandang pada siang hari berada pada tingkat bahaya hingga darurat. Ternak merespons kondisi tersebut dengan peningkatan suhu rektal, denyut jantung, dan frekuensi pernapasan. Sapi persilangan tercatat menunjukkan respons cekaman yang lebih tinggi dibandingkan sapi Bali, dengan sapi persilangan yang sedang bunting sebagai kelompok paling rentan.





"Sapi Bali dan sejumlah bangsa lokal Indonesia mampu menjaga suhu tubuh lebih stabil dalam kondisi tropis dibandingkan sebagian ternak persilangan. Ini menunjukkan bahwa sumber daya genetik yang telah lama beradaptasi dengan lingkungan Indonesia perlu ditempatkan sebagai aset dalam menghadapi perubahan iklim," ungkap Ananda.





Reproduksi Harus Masuk Agenda Adaptasi Iklim





Ananda menegaskan, strategi adaptasi perubahan iklim di sektor peternakan tidak boleh berhenti pada upaya mempertahankan produksi semata, tetapi juga harus menjadikan reproduksi sebagai ukuran keberhasilan. Sebab, gangguan produksi mungkin bisa dipulihkan dalam satu musim, sedangkan kegagalan reproduksi dapat memengaruhi populasi ternak selama bertahun-tahun.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X