Sumbardaily.com - Rel kereta api di Sumatera Barat (Sumbar) menyimpan kisah panjang yang hingga kini masih memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat. Jalur yang pada masa lalu dibangun untuk menghubungkan kawasan tambang batu bara Ombilin dengan Pelabuhan Emmahaven, yang kini dikenal sebagai Teluk Bayur, kini berkembang menjadi salah satu tulang punggung mobilitas masyarakat sekaligus memiliki peluang besar dalam mendukung penguatan konektivitas perkeretaapian Pulau Sumatera.
Keberadaan jalur kereta tersebut tidak hanya menjadi bagian dari sejarah pembangunan daerah, tetapi juga berperan membentuk pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, perkembangan sosial, hingga lanskap budaya di berbagai wilayah Sumbar.
Jalur rel itu menghubungkan kawasan pesisir hingga pedalaman, mulai dari Pariaman menuju Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh, hingga Sawahlunto.
Hingga sekarang, jalur kereta api tersebut masih dimanfaatkan masyarakat sebagai sarana transportasi menuju sekolah, tempat kerja, bandara, pusat kegiatan ekonomi, hingga berbagai destinasi wisata.
Nilai strategis sejarah perkeretaapian Sumatera Barat kembali menguat seiring arah kebijakan nasional dalam memperkuat konektivitas jaringan kereta api di Pulau Sumatera.
Provinsi ini dinilai memiliki modal penting berupa jaringan rel yang telah tersedia, aset prasarana perkeretaapian, serta layanan yang masih dimanfaatkan masyarakat secara aktif.
Perjalanan sejarah perkeretaapian di Sumbar dimulai pada akhir abad ke-19 untuk mendukung distribusi batu bara dari Ombilin.