Sumbardaily.com—Pabrik infus Muhammadiyah menjadi langkah strategis organisasi tersebut dalam memperkuat kemandirian sektor kesehatan nasional. Selama ini, jaringan layanan kesehatan Muhammadiyah yang mencakup 130 rumah sakit dan lebih dari 300 klinik masih bergantung pada pasokan cairan infus dari pihak lain.
Kondisi tersebut mendorong Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk meluncurkan entitas bisnis baru, PT Suryavena Farma Indonesia pada 13 April 2026 lalu, di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta. Peluncuran ini menjadi penanda masuknya Muhammadiyah ke sektor industri farmasi nasional.
Latar Belakang Pembangunan Pabrik Infus
Direktur Utama PT Suryavena Farma Indonesia, Tatat Rahmita Utami, menjelaskan bahwa selama ini Muhammadiyah memiliki kekuatan di sektor kesehatan dan pendidikan. Namun, kebutuhan alat kesehatan dan obat-obatan, termasuk infus, masih bergantung pada pihak luar.
"Selama ini Muhammadiyah kuat di sektor kesehatan dan pendidikan. Namun, untuk suplai alat kesehatan dan obat-obatan, masih bergantung pada pihak luar. Karena masih menumpang di pabrik lain, ada keterbatasan suplai. Padahal kebutuhan di internal Muhammadiyah cukup besar," kata Tatat Rahmita Utami, Sabtu (18/4).
Produksi sebelumnya dilakukan melalui skema maklon dengan PT Satoria Aneka Industri di Pasuruan sejak Maret 2024. Skema tersebut dinilai memiliki keterbatasan kapasitas dan tidak menjamin kestabilan pasokan untuk kebutuhan internal Muhammadiyah yang cukup besar.
Lokasi dan Kapasitas Produksi
Sebagai solusi jangka panjang, pembangunan pabrik infus Muhammadiyah direncanakan di Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Lokasi ini dipilih karena merupakan sentra industri cairan infus nasional dan telah memenuhi standar kelayakan, termasuk kualitas air untuk produksi farmasi steril.
Lahan yang disiapkan mencapai sekitar 14 hektare dan telah dinyatakan layak untuk pembangunan fasilitas industri farmasi. Dari sisi kapasitas, produksi ditargetkan mencapai 15 juta botol per tahun.