Sumbardaily.com, Padang – Kasus pembunuhan disertai mutilasi yang mengguncang Sumatera Barat (Sumbar) terus menyita perhatian publik. Pelaku bernama Satria Juhanda alias Wanda (25), diduga menghabisi tiga korban perempuan secara brutal. Tindak kejahatan ini memunculkan berbagai pertanyaan mengenai kondisi psikologis pelaku.
Psikolog asal Batusangkar, Alfi Rahmadini, yang merupakan alumnus Universitas Andalas dan Universitas Gadjah Mada, memberikan pandangannya mengenai perilaku keji tersebut. Ia menilai, terdapat kemungkinan pelaku mengalami gangguan kejiwaan atau bahkan mengarah pada psikopat. Namun, untuk memastikan hal tersebut diperlukan asesmen psikologis yang komprehensif.
"Dari sisi psikologi forensik, pelaku bisa saja mengalami tekanan emosional mendalam, trauma, atau gangguan dalam pengelolaan emosi. Tetapi semua ini harus dibuktikan melalui asesmen profesional," ujar Alfi, Jumat (20/6/2025).
Salah satu motif mutilasi, menurut Alfi, adalah untuk menghilangkan jejak kejahatan. Pelaku yang tidak ingin aksinya diketahui, bisa saja memotong jasad korban agar lebih mudah disembunyikan atau dibuang.
Diketahui, Wanda telah melakukan pembunuhan terhadap tiga perempuan. Dua di antaranya—Siska Oktavia Rusdi (23) dan Adek Gustiana (24)—dinyatakan hilang sejak Januari 2024 dan jasad mereka ditemukan di sumur tua di belakang rumah pelaku. Sedangkan korban ketiga, Septia Adinda (25), dimutilasi Minggu (15/6/2025) dan bagian tubuhnya dibuang ke aliran sungai di Padang Pariaman dan Kota Padang.
Menurut Alfi, pelaku yang melakukan tindakan kekerasan berulang bisa jadi merasa aman karena aksinya sebelumnya tidak terdeteksi. Hal ini memperkuat kepercayaan dirinya untuk melanjutkan tindakan serupa.
"Biasanya mutilasi membutuhkan waktu, tempat aman, serta pemahaman terhadap lingkungan. Oleh karena itu, korban seringkali adalah orang yang dikenal oleh pelaku," tambahnya.