NASA Pantau Karhutla Papua dari Satelit, Emisi Karbon Tembus 35 Juta Ton

Photo Author
Redaksi, Sumbardaily.com
- Jumat, 23 Oktober 2026 | 12:13 WIB
NASA menampilkan asap kebakaran di Papua dari citra satelit NOAA-20 yang direkam pada 11 Oktober 2026. Emisi karbon di wilayah Papua Indonesia melampaui 35 juta ton. (Foto: NASA Earth Observatory)
NASA menampilkan asap kebakaran di Papua dari citra satelit NOAA-20 yang direkam pada 11 Oktober 2026. Emisi karbon di wilayah Papua Indonesia melampaui 35 juta ton. (Foto: NASA Earth Observatory)

Temuan itu menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas kebakaran tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Papua dan Kalimantan menjadi dua kawasan yang mendapat perhatian karena lonjakan aktivitas kebakarannya pada tahun ini.

Kehilangan Hutan Primer Papua Capai 27 Ribu Hektare

Selain kondisi cuaca yang kering dan aktivitas manusia, tekanan terhadap kawasan hutan juga menjadi bagian dari persoalan lingkungan di Papua.

NASA mengutip data Global Forest Watch yang mencatat kehilangan sekitar 27.000 hektare hutan primer di Papua Indonesia sepanjang 2025. Luas kehilangan tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Perubahan bentang alam untuk berbagai kegiatan ekonomi turut memberikan tekanan terhadap kawasan hutan. Aktivitas yang disebut mencakup pengembangan perkebunan kelapa sawit, industri kayu pulp, pertanian, perluasan kawasan perkotaan, serta pertambangan.

Dalam kondisi vegetasi dan lahan yang mengering, aktivitas pembukaan maupun pengelolaan lahan dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran apabila api menyebar ke area sekitarnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebakaran di Papua tidak hanya berkaitan dengan besarnya emisi karbon, tetapi juga berlangsung di tengah tekanan terhadap tutupan hutan dan perubahan penggunaan lahan.

Kebakaran Diperkirakan Berlanjut hingga Hujan Lebat Tiba

Para peneliti memperkirakan kebakaran di Pulau New Guinea masih dapat berlanjut sampai hujan lebat pada musim penghujan tiba di bagian selatan pulau tersebut.

Hujan lebat biasanya mulai terjadi pada awal November. Sebelum kondisi tersebut terbentuk, cuaca kering masih dapat membuat vegetasi dan lahan rentan terbakar.

Besarnya emisi karbon di Papua Indonesia yang telah melampaui 35 juta ton pada 2026, ditambah emisi yang mendekati 32 juta ton di Papua Nugini hingga 19 Oktober, menunjukkan skala kebakaran yang terjadi di Pulau New Guinea.

Sementara itu, citra satelit NOAA-20 yang merekam asap tebal pada 11 Oktober menjadi salah satu dokumentasi visual yang ditampilkan NASA untuk memperlihatkan kondisi kebakaran di kawasan tersebut. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Admin Redaksi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X