“Sebagai contoh, masyarakat dapat memilih ubi rebus untuk sarapan, nasi pada siang hari, serta olahan umbi lainnya pada malam hari. Variasi tersebut tetap perlu dilengkapi sumber protein, sayuran, dan buah,” ungkapnya.
Potensi Olahan Umbi Lokal
Di Sumatera Barat (Sumbar), pemanfaatan umbi sebenarnya telah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat. Salah satu contohnya adalah keripik singkong atau sanjai yang dikenal sebagai produk olahan pangan lokal. Meski demikian, pengembangan umbi masih memiliki peluang untuk diperluas melalui inovasi produk dan penerapan teknologi pengolahan.
Tuty menjelaskan, salah satu cara meningkatkan pemanfaatan umbi adalah mengolahnya menjadi tepung. Pengolahan tersebut dapat memperpanjang umur simpan bahan sekaligus membuat penggunaannya lebih beragam dalam berbagai produk pangan.
Selain memperluas pemanfaatan, pengolahan umbi menjadi tepung juga berpeluang meningkatkan nilai jual dibandingkan ketika bahan dipasarkan dalam bentuk segar. Dengan pengembangan yang tepat, bahan pangan lokal tidak hanya dimanfaatkan untuk konsumsi rumah tangga, tetapi juga berpotensi menjadi bahan baku produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Pengembangan umbi bahkan dapat dilanjutkan hingga pengolahan patinya menjadi bahan dengan kegunaan yang lebih luas. Tuty menyebut pati umbi berpotensi dikembangkan menjadi dekstrin, maltodekstrin, hingga bahan pembentuk edible film atau lapisan yang dapat dimakan.
Meski begitu, pengembangan bahan berbasis pati tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Penelitian diperlukan untuk memastikan karakteristik bahan serta kesesuaiannya dengan berbagai kebutuhan sebelum pemanfaatannya dikembangkan lebih jauh.
“Pada tahap lebih lanjut, pati umbi dapat dikembangkan menjadi dekstrin, maltodekstrin, maupun bahan pembentuk edible film. Pengembangan lapisan berbasis pati tersebut masih memerlukan penelitian untuk memastikan karakteristik dan kesesuaiannya bagi berbagai kebutuhan,” katanya.
Diversifikasi Pangan Butuh Kolaborasi
Menurut Tuty, pengembangan diversifikasi pangan tidak cukup hanya dengan mengenalkan bahan alternatif kepada masyarakat. Upaya tersebut juga membutuhkan keterlibatan peneliti dan pelaku industri agar pangan lokal dapat diolah menjadi produk yang aman, menarik, serta memiliki peluang pasar.