Pada aspek regulasi, ia terkadang harus kembali mempelajari ketentuan FIFA yang mengatur status, kontrak, dan registrasi pemain. Berbagai urusan tersebut membuat tanggung jawab GM mencakup aspek administratif, finansial, organisasi, dan operasional sekaligus.
Deni menegaskan pentingnya membangun sistem kerja yang profesional. Menurutnya, meskipun ada banyak persoalan internal yang tidak dapat disampaikan kepada publik, pengelolaan klub tetap harus berlandaskan transparansi dan akuntabilitas.
Ia menyadari tidak seluruh dinamika di balik layar dapat dibuka kepada masyarakat. Ada batasan yang perlu dijaga agar persoalan internal tidak serta-merta menjadi konsumsi publik.
Namun, ia ingin memastikan sistem operasional berjalan dengan prinsip zero error. Setiap keputusan berat yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan, baik secara korporat maupun moral.
Mengakui Masih Harus Belajar Mengendalikan Emosi
Di tengah tanggung jawab yang luas, Deni mengakui masih perlu banyak belajar, terutama dalam mengendalikan emosi dan ego. Ia menyebut terkadang masih bereaksi secara berlebihan ketika menghadapi situasi tertentu.
Pada awalnya, ia membayangkan dapat membangun sistem kerja yang santai, nyaman, dan menyenangkan. Namun, kenyataan di lapangan ternyata jauh lebih kompleks karena adanya intrik, benturan kepentingan, serta persoalan yang seolah tidak pernah habis.
Kondisi itu membuatnya kembali mempertanyakan kemampuan diri. Dalam salah satu perenungannya, ia bertanya apakah tekanan yang dirasakan sudah mencapai batas kemampuannya dan mengapa ia kembali berada dalam fase mempertanyakan kapasitas diri.