"Gue selalu percaya kalau Allah nggak mungkin kasih cobaan di luar batas kemampuan umatnya," tulisnya.
Ketika fisik dan mental terasa berada di ambang batas, dia berusaha menyemangati dirinya sendiri agar tidak menyerah menghadapi keadaan.
"Lo bisa, Den. Lo bisa. Jangan lemah. Jangan kalah. Malu, Den," tulisnya.
Tekanan Mengurus Klub Dinilai Lebih Berat daripada Timnas
Salah satu pengakuan Deni yang menarik perhatian adalah perbandingannya antara pengalaman bekerja di lingkungan tim nasional dan tanggung jawab mengelola klub.
Dia menilai tekanan ketika menangani Timnas, baik dalam urusan administrasi maupun mendampingi tim, masih memiliki periode kerja yang lebih jelas. Aktivitas biasanya berkaitan dengan agenda atau turnamen tertentu, kemudian diikuti jeda setelah kegiatan selesai.
Kondisi tersebut berbeda dengan pengelolaan klub yang menurutnya berlangsung secara terus-menerus.
"Pernah di suatu titik gue sampai mikir, ternyata pressure di Timnas dulu belum ada apa-apanya dibanding ngurus klub seperti ini," tulis Deni.
Dia menjelaskan bahwa pekerjaan di klub berjalan setiap pekan dan setiap bulan tanpa jeda tekanan yang benar-benar terasa. Berbagai persoalan harus diselesaikan bersamaan dengan persiapan pertandingan dan pemenuhan kebutuhan operasional.