Langkah tersebut ditujukan agar pelaku usaha dapat mengelola kegiatan produksi secara lebih terarah. Penyesuaian kapasitas dengan permintaan pasar juga menjadi perhatian supaya produk yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Selain persoalan produksi, akses permodalan menjadi salah satu fokus utama dalam kegiatan ini. Para peserta mendapatkan pemahaman mengenai berbagai alternatif sumber pembiayaan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan usaha.
Mereka juga dibekali pengetahuan tentang kelengkapan administrasi, legalitas usaha, dan pengelolaan keuangan. Ketiga aspek tersebut menjadi bagian dari persiapan pelaku UMKM agar lebih siap memenuhi persyaratan ketika mengajukan pembiayaan.
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Barat, Dr. Endrizal, S.E., M.Si.; Rektor UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, S.Ag., M.Si.; serta Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Agam, Endrimelson.
Sejumlah narasumber dari berbagai lembaga dan kalangan turut memberikan materi. Mereka berasal dari Kementerian UMKM, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), inkubator bisnis, fungsional Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT), mitra perbankan, pelaku usaha, hingga praktisi.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Agam, Endrimelson, menyebut penguatan kapasitas produksi dan perluasan akses pembiayaan merupakan bagian penting dalam proses pemulihan UMKM setelah bencana.
"Penguatan kapasitas produksi dan perluasan akses pembiayaan menjadi bagian penting dalam membantu pelaku UMKM bangkit dan mengembangkan kembali usahanya setelah terdampak bencana," ujar Endrimelson.
Melalui pendampingan tersebut, pelaku UMKM diharapkan dapat memperbaiki pengelolaan bisnis, meningkatkan kemampuan produksi, menjaga kualitas produk, serta mempersiapkan kebutuhan administrasi dan keuangan untuk mengakses pembiayaan.