Salah satu jejak penting Syekh Burhanuddin adalah pengembangan surau yang tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan dan kegiatan keagamaan. Peran tersebut membuat nama Syekh Burhanuddin tetap dikenal hingga kini, khususnya di Sumatera Barat (Sumbar).
Rencana penggunaan nama Syekh Burhanuddin pada bandara diharapkan dapat membuka ruang yang lebih luas untuk memperkenalkan sejarah Padang Pariaman kepada masyarakat. Bandara sebagai salah satu pintu masuk ke Sumbar dinilai dapat menjadi sarana untuk mengenalkan tokoh tersebut kepada masyarakat dari berbagai daerah.
Meski demikian, perubahan nama BIM belum dapat dilakukan secara langsung. Pemkab Padang Pariaman masih harus menjalani sejumlah tahapan sebelum usulan tersebut diajukan kepada pemerintah pusat.
Tahap awal yang akan dilakukan adalah audiensi dengan Gubernur Sumbar. Pemkab Padang Pariaman juga akan berkoordinasi dengan DPRD Kabupaten Padang Pariaman terkait rencana tersebut.
Koordinasi itu diperlukan sebelum usulan perubahan nama Bandara Internasional Minangkabau disampaikan melalui Kementerian Perhubungan. Seluruh proses nantinya akan mengikuti mekanisme dan ketentuan yang berlaku.
John Kenedy Azis mengatakan belum ada target waktu khusus terkait realisasi perubahan nama BIM. Meski begitu, pemerintah daerah akan berupaya agar proses pengusulan dapat berjalan secepatnya.
“Usulan ini tentu akan melalui proses dan mekanisme yang berlaku. Kita akan melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan pihak-pihak terkait sebelum menyampaikannya kepada pemerintah pusat,” ujarnya, dilansir dari Situs Resmi Pemkab Padang Pariaman, Kamis (24/9/2026).
Pemkab Padang Pariaman berharap rencana tersebut tidak sekadar mengubah nama Bandara Internasional Minangkabau. Penggunaan nama Syekh Burhanuddin diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas sejarah dan budaya daerah.