"GERMAS bukan sekadar program pemerintah, tetapi gerakan bersama. Jangan jadikan pertemuan ini sekadar agenda rutin, melainkan harus melahirkan komitmen dan aksi nyata yang terukur agar setiap keluarga dan kelurahan menjadi sehat," tegasnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh, dr. Yanti, menjelaskan perubahan peran Posyandu merupakan bagian dari transformasi layanan primer. Transformasi layanan primer sendiri menjadi satu dari enam pilar transformasi kesehatan nasional.
Di Payakumbuh, penguatan layanan primer tidak hanya dilakukan melalui Posyandu. Sebanyak 47 Puskesmas Pembantu (Pustu) dan Pos Kesehatan Kelurahan juga telah mengalami transformasi menjadi Unit Pelayanan Kesehatan Desa/Kelurahan (UPKDK).
Perubahan tersebut membuat cakupan pelayanan Posyandu semakin luas. Posyandu yang sebelumnya banyak dikenal melalui pelayanan kesehatan ibu dan anak kini diarahkan mampu menjangkau masyarakat berdasarkan seluruh tahapan usia.
"Pada era transformasi ini, Posyandu memberikan layanan komprehensif yang menjangkau ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita, anak prasekolah, usia sekolah, remaja, dewasa, sampai lansia," jelas dr. Yanti.
Dengan cakupan tersebut, keberadaan kader menjadi semakin penting. Kader Posyandu menjadi penghubung antara masyarakat dengan tenaga kesehatan dalam pelaksanaan berbagai layanan dan kegiatan kesehatan di tingkat masyarakat.
Pemko Payakumbuh pun terus mendorong peningkatan kemampuan kader sekaligus memperkuat sarana dan prasarana pendukung Posyandu. Salah satu bentuk upaya tersebut dilakukan melalui Lomba Kader dan Posyandu Bidang Kesehatan Berprestasi Tingkat Kota Payakumbuh 2026.
Dalam ajang tersebut, Posyandu Tapak Dara dari Kelurahan Koto Tuo Limo Kampung, Kecamatan Payakumbuh Selatan, berhasil menempati peringkat pertama. Posyandu tersebut tampil bersama kader Afridawati.