Dalam konteks itu, Unand diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai institusi pendidikan, tetapi juga menjadi salah satu pusat lahirnya gagasan, teknologi dan tenaga ahli yang mampu menjawab tantangan energi masa depan.
“Saya ingin mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi pencipta teknologi. Tidak hanya menjadi konsumen energi, tetapi generasi yang mampu merancang sistem energi yang lebih bersih, efisien, mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya.
Persoalan energi, lanjut Mahyeldi, juga berkaitan erat dengan ketahanan daerah terhadap berbagai risiko, termasuk bencana.
Sistem energi yang dibangun harus mampu mendukung kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan sekaligus memperluas akses hingga wilayah terpencil dan kepulauan.
Salah satu perhatian yang disampaikan adalah kebutuhan energi di Kepulauan Mentawai. Pemprov Sumbar mengeklaim akan mempersiapkan pemanfaatan tenaga surya di wilayah tersebut.
“Kami akan mempersiapkan tenaga surya di Mentawai. Tidak mungkin industri bergerak dan ekonomi lebih cepat kalau ketersediaan energi masih belum terjamin,” katanya.
Mahyeldi juga menilai transisi energi tidak boleh berhenti pada wacana. Pengembangan energi terbarukan harus disertai berbagai langkah konkret, mulai dari teknologi penyimpanan energi, sistem kelistrikan cerdas, hingga inovasi yang benar-benar menjawab persoalan masyarakat.
Untuk mewujudkannya, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan generasi muda dinilai menjadi faktor penting.