Unand Siapkan Penguatan Riset Ekonomi Islam
Sementara itu, Rektor Unand Efa Yonnedi, Ph.D. turut mengungkapkan pengalamannya ketika masih berstatus mahasiswa. Saat itu, dia pernah menjadi ketua seminar perbankan Islam yang diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa pembahasan ekonomi dan perbankan syariah telah lama berkembang melalui forum akademik. Namun, menurut Efa, diskusi tidak boleh berhenti sebagai pertukaran gagasan tanpa diikuti upaya untuk mewujudkan hasil pembahasan dalam bentuk program nyata.
Seminar perbankan Islam yang pernah dipimpinnya ketika mahasiswa, misalnya, kemudian dilanjutkan dengan workshop bersama Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Kegiatan tersebut diarahkan untuk mendorong pendirian Baitul Maal wa Tamwil (BMT).
“Harus ada langkah konkret, baik dari sisi regulasi, pelatihan, sumber daya manusia, maupun pengembangan kelembagaan,” ujar Efa.
Ia menilai penguatan ekonomi syariah membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Regulasi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, pelatihan, serta pengembangan kelembagaan perlu berjalan beriringan agar perkembangan ekonomi syariah dapat memberikan dampak yang lebih nyata.
Dalam upaya memperkuat kontribusi akademik terhadap perkembangan ekonomi Islam, Unand telah memiliki Program Studi Ekonomi Islam di FEB. Perguruan tinggi tersebut juga berencana mengembangkan pusat riset dan pengembangan ekonomi Islam.
Pusat tersebut diharapkan menjadi wadah untuk memperkuat kegiatan riset secara profesional sekaligus meningkatkan kapasitas akademik. Dengan demikian, pengembangan ekonomi Islam di lingkungan Unand tidak hanya diarahkan pada proses pembelajaran, tetapi juga penguatan penelitian dan pengembangan keilmuan.
Temilnas Hadirkan Pakar dan Pemangku Kepentingan
Pelaksanaan Temilnas menjadi bagian dari upaya mempertemukan berbagai perspektif mengenai masa depan ekonomi syariah. Forum ini menghadirkan pakar, akademisi, praktisi, serta pemangku kepentingan nasional.