Sumbardaily.com - Perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi mulai menjadi tantangan serius bagi petambak udang di Lhokseumawe. Fluktuasi suhu, salinitas, hingga tingkat keasaman air tambak dapat memicu stres pada udang, meningkatkan risiko serangan penyakit, bahkan berujung pada kematian dan merosotnya hasil budidaya.
Kondisi tersebut coba dijawab melalui Program Gampong Berdikari yang dijalankan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut melalui Terminal BBM Lhokseumawe di Gampong Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu.
Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) tersebut tidak sekadar berorientasi pada bantuan, tetapi diarahkan untuk memperkuat kemampuan petambak menghadapi dampak perubahan iklim dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam program tersebut adalah pelatihan pembuatan probiotik Mikro Organisme Lokal (MOL).
Petambak dibekali keterampilan mengolah limbah buah yang berasal dari pasar menjadi probiotik alami yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan budidaya udang vaname.
Langkah itu menjadi penting karena perubahan kondisi lingkungan perairan dapat secara langsung memengaruhi keberlangsungan budidaya.
Ketika suhu, salinitas dan pH air mengalami perubahan, udang berpotensi mengalami stres dan lebih rentan terhadap penyakit. Jika kondisi tersebut tidak dapat dikendalikan, produktivitas tambak dan pendapatan petambak ikut terancam.