Menurut Efa, pencapaian dalam kehidupan tidak cukup hanya diukur dari keberhasilan akademik maupun profesional. Kemampuan membangun dan menjaga keluarga juga menjadi bagian penting dalam kehidupan.
“Bagaimana menyeimbangkan peran akademik, peran profesional, dan peran keluarga. Ini tidak mudah. Kita sendiri mengalaminya,” ujarnya.
Ia berharap seminar tersebut tidak berhenti sebagai forum untuk mendapatkan pengetahuan, tetapi dapat memberikan bekal yang dapat digunakan peserta dalam kehidupan sehari-hari. Wawasan yang diperoleh diharapkan membantu peserta ketika menjalankan berbagai peran sekaligus.
Efa menyebut tantangan tersebut dapat dirasakan seseorang ketika harus menjalankan peran sebagai anggota keluarga sekaligus memiliki tanggung jawab dalam lingkungan akademik maupun profesional.
“Semoga seminar ini memberi bekal yang nyata bagi kita semua untuk menjalankan peran ganda, sebagai ayah, sebagai dosen, sebagai ibu, sebagai dekan, sebagai direktur. Ini merupakan peran yang sangat challenging, enggak mudah menyeimbangkan peran-peran yang kita jalankan,” katanya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keseimbangan antara kehidupan akademik, pekerjaan, dan keluarga menjadi persoalan yang relevan bagi sivitas akademika. Kesibukan menjalankan tanggung jawab profesional tetap perlu diiringi perhatian terhadap kehidupan keluarga.
Tantangan Keluarga di Tengah Era Digital
Sementara itu, Ketua TP-PKK Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) Harneli Mahyeldi menyoroti tantangan yang dihadapi keluarga pada era digital. Perkembangan zaman membawa berbagai persoalan yang dinilai dapat memengaruhi keharmonisan rumah tangga.