Menurut Defitra, penanganan setelah kebakaran tidak hanya berkaitan dengan kondisi bangunan yang terdampak. Pemerintah juga perlu memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi selama menjalani masa pemulihan.
“BPBD akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait. Prinsipnya, kami ingin memastikan warga tidak menghadapi musibah ini sendirian dan kebutuhan penanganan di lapangan dapat segera ditindaklanjuti,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Payakumbuh Yonrefli mengatakan bantuan sosial tersebut merupakan bagian dari langkah pemerintah untuk mendampingi keluarga korban pada masa awal setelah bencana.
“Kebutuhan warga setelah kebakaran tentu tidak hanya berupa makanan, tetapi juga berbagai kebutuhan rumah tangga. Karena itu, kami memberikan bantuan yang dapat langsung dimanfaatkan keluarga korban sambil terus melihat kebutuhan mereka berikutnya,” ujarnya.
Penanganan terhadap korban sebenarnya telah dilakukan sejak malam kebakaran Payakumbuh. Warga yang rumahnya terbakar untuk sementara mengungsi ke rumah saudara.
Pada malam kejadian, Sekretaris Daerah Kota Payakumbuh Rida Ananda membantu menyediakan makan malam bagi seluruh korban. Dinas Pekerjaan Umum memberikan bantuan penerangan di lokasi, sementara BPBD menyiapkan kebutuhan tidur darurat.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Payakumbuh juga ikut memberikan bantuan spontan kepada korban. Elzadaswarman bersama Sekretaris Daerah, BPBD, Dinas Sosial, Satuan Polisi Pamong Praja dan Damkar, serta jajaran Pemerintah Kota Payakumbuh turut berada di lokasi pada malam kejadian untuk memastikan penanganan korban berlangsung cepat.
Peristiwa tersebut berdampak terhadap enam KK atau sebanyak 24 jiwa. Mereka terdiri atas sembilan laki-laki dan 15 perempuan, termasuk tujuh anak sekolah dan tiga bayi. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.