Sumbardaily.com – Di sebuah kawasan berbukit yang berdampingan dengan aliran Sungai Bangek, ada upaya yang ditanam bukan sekadar untuk menghijaukan tanah. Ribuan bibit pohon dan vegetasi bambu disiapkan menjadi bagian dari ikhtiar membentengi lereng dari ancaman longsor, sekaligus menjaga lingkungan yang menjadi ruang hidup masyarakat dan kawasan pendidikan.
Lereng di sekitar Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang menjadi saksi gerakan tersebut. Di kawasan dengan kontur tanah yang cukup curam itu, ancaman bencana bukan perkara yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ketika hujan deras datang, lereng yang rapuh dan aliran Sungai Bangek dapat menghadirkan risiko longsor hingga galodo.
Di tengah kondisi tersebut, jajaran Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol (TIB) memilih memperingati hari ulang tahun pertama dengan cara yang berbeda. Alih-alih menjadikan momentum tersebut sebagai seremoni semata, mereka mengisinya dengan aksi lingkungan berupa penanaman 1.000 pohon produktif serta pembentengan lereng menggunakan vegetasi bambu khusus.
Gerakan itu mempertemukan unsur pertahanan, pemerintah, perguruan tinggi, pengelola daerah aliran sungai, dan masyarakat. Ada satu tujuan yang menjadi titik temu: mengurangi kerentanan kawasan terhadap ancaman bencana sekaligus membangun kesadaran bahwa menjaga alam Minangkabau tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.
Sinyal Bahaya dari Lereng Minangkabau
Lanskap Minangkabau yang selama ini identik dengan perbukitan hijau dan aliran sungai menyimpan tantangan ekologis yang semakin kompleks. Deforestasi dan alih fungsi lahan menjadi bagian dari persoalan yang memengaruhi kondisi lingkungan. Di saat yang sama, intensitas hujan yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim turut meningkatkan kerentanan kawasan.
Bukit yang semestinya menjadi penyangga lingkungan dapat berubah menjadi sumber ancaman ketika daya dukungnya terganggu. Pada kondisi tertentu, tanah di lereng dapat mengalami longsor. Sementara itu, aliran air yang meningkat dapat membawa material berupa lumpur dan pepohonan dalam peristiwa galodo atau banjir bandang.
Ancaman tersebut menjadi semakin serius ketika berada di dekat kawasan permukiman maupun pusat aktivitas masyarakat, termasuk kawasan pendidikan.