Dalam simulasi tersebut, peserta yang akan dilibatkan berasal dari berbagai unsur. Mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Sumbar, OPD Pemerintah Kota Pariaman, BPBD dari daerah yang memiliki wilayah pesisir, BPBD daerah penyangga, hingga kalangan pendidikan dan masyarakat.
Pelajar tingkat SD, SMP/MTs, SMA/MA/SMK juga akan ikut berpartisipasi bersama Kelompok Siaga Bencana serta masyarakat yang berada di sekitar lokasi pelaksanaan simulasi.
Menurut Rezky, sebelum kegiatan berlangsung, tim gabungan akan terlebih dahulu melakukan survei lapangan. Tahapan ini bertujuan untuk menentukan jalur evakuasi sekaligus menghitung waktu tempuh yang dibutuhkan masyarakat menuju lokasi aman apabila terjadi tsunami.
"Nanti kita akan melakukan survei lokasi bersama-sama, agar bisa mengidentifikasi waktu atau jarak yang akan ditempuh untuk simulasi evakuasi mandiri," katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Pariaman, Ferry Ferdian Bagindo Putra, menyatakan kesiapan penuh pemerintah daerah dalam mendukung pelaksanaan simulasi tersebut.
Menurut Ferry, latihan kebencanaan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat, mengingat Kota Pariaman selama ini kerap disebut sebagai salah satu wilayah yang berpotensi terdampak apabila terjadi tsunami yang dipicu Megathrust Mentawai.
"Tentu kami siap mendukung. Kami berterima kasih banyak BPBD provinsi berkenan melakukan kegiatan ini di Kota Pariaman, setidaknya agar masyarakat lebih waspada dan siaga," ujar Ferry.
Melalui simulasi yang dijadwalkan berlangsung pada September mendatang, BPBD Sumbar berharap koordinasi antarlembaga semakin kuat dan masyarakat semakin memahami langkah penyelamatan diri saat terjadi keadaan darurat.