Kisah Buruh Angkut hingga Jadi Gubernur, Mahyeldi Motivasi Siswa Sekolah Rakyat 3 Dharmasraya

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Minggu, 2 Agustus 2026 | 10:04 WIB
Suasana Open House dan MPLS Tahun Ajaran 2026/2027 di Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Dharmasraya berlangsung penuh antusias. (Foto: Pemprov Sumbar)
Suasana Open House dan MPLS Tahun Ajaran 2026/2027 di Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Dharmasraya berlangsung penuh antusias. (Foto: Pemprov Sumbar)



Dalam kesempatan itu, Mahyeldi mengingatkan bahwa generasi muda Sumatera Barat memiliki warisan sejarah yang besar dari sejumlah tokoh nasional yang berasal dari Ranah Minang. Ia mengatakan semangat perjuangan para pendiri bangsa harus menjadi motivasi bagi para pelajar untuk terus belajar dan mengembangkan diri.





"Dalam diri ananda semuanya mengalir darah para pejuang. Darah Bung Hatta, Mohammad Yamin, Buya Hamka, Mohammad Natsir, Tan Malaka dan tokoh-tokoh besar bangsa lainnya. Karena itu jangan pernah merasa rendah diri. Kalian juga bisa menjadi gubernur, presiden, tentara, polisi, jaksa, dokter maupun profesi hebat lainnya," tegas Mahyeldi.





Selain mengingatkan tentang tokoh-tokoh besar bangsa, Mahyeldi juga mengajak para siswa memahami sejarah perjuangan yang pernah berlangsung di Kabupaten Dharmasraya. Menurutnya, daerah tersebut memiliki kontribusi penting dalam perjalanan bangsa melalui perjuangan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).





Ia menilai perjuangan para pejuang yang bergerilya hingga melewati wilayah Dharmasraya merupakan bagian penting dalam mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh sebab itu, semangat perjuangan tersebut harus diteruskan oleh generasi muda.





"Kalau tidak ada perjuangan PDRI yang bergerilya hingga melewati Dharmasraya, sejarah bangsa ini tentu akan berbeda. Karena itu, kalian adalah pewaris semangat perjuangan tersebut," katanya.





Tidak hanya memberikan motivasi melalui sejarah bangsa, Mahyeldi juga membagikan pengalaman hidupnya kepada para siswa. Ia menceritakan bahwa dirinya berasal dari keluarga sederhana.





Menurut Mahyeldi, ayahnya bekerja sebagai buruh angkut di Pasar Bawah Bukittinggi, sedangkan ibunya memiliki keterbatasan fisik. Meski demikian, sang ibu tetap bekerja menerima jahitan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.





"Ayah saya seorang buruh angkut di pasar. Ibu saya memiliki keterbatasan fisik, tetapi tetap bekerja keras. Kami tujuh bersaudara, dan enam orang berhasil kuliah. Jadi tidak ada alasan untuk menyerah hanya karena berasal dari keluarga sederhana," ungkapnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X