Untuk memperkuat langkah mitigasi, BMKG meningkatkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca di sejumlah wilayah. Saat ini operasi berlangsung di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Kehutanan serta BNPB.
Selain itu, BMKG menyiapkan Posko OMC di Pekanbaru guna mendukung penanganan karhutla di Riau dan Posko OMC di Bandung sebagai langkah antisipasi kekeringan di Jawa Barat.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, mengatakan penyemaian awan menjadi salah satu upaya memaksimalkan potensi hujan alami sebelum kondisi kekeringan semakin parah.
"Penyemaian awan melalui OMC merupakan upaya komplementer untuk mengoptimalkan potensi hujan alami sebelum kekeringan parah terjadi. Namun, ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan pelaksanaan OMC, pemadaman titik api secara langsung di darat menjadi tumpuan utama. Kami menyelaraskan upaya ini melalui koordinasi erat bersama BNPB, TNI, Polri, Kementerian Kehutanan, serta Kementerian Lingkungan Hidup," kata Seto.
Sepanjang 2026, BMKG telah melaksanakan 17 operasi modifikasi cuaca untuk mendukung penanganan karhutla di Aceh, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Selatan.
Selain penanganan kebakaran hutan, BMKG juga memanfaatkan OMC untuk mendukung pengisian waduk dan danau sebagai langkah menghadapi dampak El Niño. Operasi tersebut telah dilakukan di Sumatra Utara, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Tengah. Selanjutnya, BMKG merencanakan pelaksanaan OMC di kawasan Daerah Tangkapan Air Danau Toba, DAS Citarum, DAS Brantas, dan DAS Mamasa.
BMKG menilai dampak musim kemarau tidak hanya dirasakan sektor kehutanan, tetapi juga pertanian, sumber daya air, energi, kesehatan, hingga perikanan.